Selasa, 21 November 2017

Prolog - Keyara (Fiksi Remaja)


Ps. Walaupun cerita ini sudah selesai dan tidak ada part yang diprivat, mohon tetap menghargai karya saya dengan cara tidak menjadi siders. Terimakasih.
***

Meskipun ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap tanpa dirimu
Ku harap terbaik untukmu.
— Endang Soekamti, Sampai Jumpa.

***
Author POV
Jam dinding masih menunjukkan pukul 6 pagi saat gadis berseragam putih biru dengan rambut dikepang dua itu memandang pantulan dirinya dicermin.
"Hey Kak Iyan, hari ini hari pertama Ara MOS." Gadis itu memulai monolognya.
Masih memandang pantulannya dicermin, "Kak Iyan kenapa bohongin Ara sih? Katanya kakak mau nemenin Ara terus, jagain Ara terus. Terus waktu acara kelulusannya kakak, kakak pernah bilang 'Ara, besok kamu ambil progam akselerasi lagi ya kalau udah lulus, biar kita bisa lulus bareng, terus kita sekolah diuniv yang sama, biar Kak Iyan bisa jagain kamu di kampus' inget kan kak?" ada jeda sebentar disela kata - katanya yang semakin terdengar lirih.
Ia menghembuskan napas kasar, mati - matian dia menahan air matanya, "Kak Iyan kenapa bohong? Kenapa kak? Sekarang aku udah ketemu keluarga aku kak, nama aku bukan Kiara lagi, tapi Keyla, dan kakak tau? Orang yang pertama ingin aku beritahu tentang ini adalah kakak ! Tapi kenapa kak? Kenapa kakak malah milih buat pergi? Apa salah aku? Apa kak !"
Tak disangka pipi gadis itu mulai basah oleh air mata yang mengalir deras dari mata indah itu.
Senyum getir tercetak jelas diwajah gadis itu. Ia masih saja terpaku pada cermin didepannya.
Hingga suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Lala, ini papa, sudah siap belum? Ayo turun buat sarapan, nanti kesiangan, kan hari ini hari pertama kamu MOS sayang." teriak Kelvin, ayah Keyla.
Dengan susah payah gadis itu mencoba menghentikan tangisnya, menghapus secara kasar sisa air mata yang masih menggenang dikedua pipinya, "Iya pa, Lala siapin peralatan buat MOS dulu, bentar lagi Lala turun."
"Oke, papa dan kakak - kakakmu tunggu dibawah ya."
"Iya pa."
***
Keyla POV
Aku turun dari kamarku setelah selesai memasukkan seluruh perlengkapan yang akan ku gunakan untuk MOS nanti, mulai dari cocard dengan bentuk Pulau Sumatra, tas berbahan dasar karung beras, dasi kupu - kupu, dua teka - teki yang harus aku pecahkan yaitu raja buah dan teletubbies cari keringat. Aku berharap barang yang ku bawa adalah jawaban dari teka - teki yang diberi oleh OSIS kemarin Sabtu.
Setibanya dimeja makan, ku lihat sudah ada papa dan kedua kakak kembarku.
Oh iya kenalkan, namaku Keyla Agatha Gibson, keluargaku suka memanggilku Lala, sedangkan teman - temanku .. Ah aku lupa, di Jakarta ini aku belum memiliki teman satupun. Aku memang tergolong orang lama yang baru menginjakkan kaki 'lagi' dikota ini. Dari umur 5 tahun sampai umur 13 tahun tepatnya saat aku lulus SMP, aku tinggal di Jogja, jadi teman - temanku ya adanya cuma di Jogja. Kalo teman - temanku di Jogja biasa memanggilku Kiara. Kenapa bisa begitu? Akan aku ceritakan dilain kesempatan.
Baiklah, sedikit ku ceritakan tentang keluargaku yang kini tengah duduk dimeja makan.
Yang pertama ada seorang laki - laki berusia 37 tahun yang masih terlihat gagah, bahkan mungkin orang awam akan mengira beliau masih berumur 30 tahunan. Dia ayahku. Beliau bernama Kelvin Gibson. Seorang CEO yang memiliki banyak anak perusahaan dan beberapa yayasan yang dulunya dikelola oleh almarhum ibuku. Ya, ibuku memang sudah meninggal dunia sejak 7 tahun yang lalu.
Meskipun ayahku tergolong orang yang sangat sibuk, namun beliau tetap meluangkan waktunya untuk keluarga. Papa sangat mencintai mama dan anak - anaknya. Bahkan setelah 7 tahun kepergian mama, papa tetap memilih untuk tidak menikah lagi sekalipun sudah mendapat restu dari aku dan kakakku.
Yang kedua ada kakak pertamaku, Attaera Orie Gibson. Umurnya dua tahun diatasku.
Kak Atta atau yang sering aku panggil Kak Tata ini adalah orang yang paling overprotective jika sudah menyangkut tentang aku.
Dan yang ketiga adalah kakak keduaku yang lahir 5 menit setelah kakak pertamaku, namanya Atvassel Orie Gibson.
Aku suka memanggilnya Kak Vava. Dia adalah orang yang nggak bisa jauh dari aku, kemana - mana selalu nempel ke aku, jika orang lain melihat kedekatan kami, pasti mereka akan mengira kami ini sepasang kekasih.
Setidaknya itulah penilaianku untuk kedua kakakku itu. Namun jika dengan orang lain, kedua kakakku itu akan menampakkan sisi lainnya. Karena sudah bukan rahasia lagi kalau kedua kakakku ini adalah sosok yang dingin.
Suasana dimeja makan sangat hening, hanya terdengar suara sendok yang bertumbukan dengan piringlah yang menemani sarapan kami.
Papa memang selalu mengajarkan kepada kami untuk tidak berbicara saat makan, kalau ada hal yang perlu disampaikan, maka sampaikanlah saat acara makan sudah usai.
"Lala berangkat sekolah naik apa?" Papa membuka pembicaraan saat kami telah menyelesaikan sarapan.
"Naik sepeda motor pa." Jawabku.
"Kamu yakin sayang? Gak mau bareng kakak aja?" Kini giliran Kak Vava yang menghadiahiku sebuah pertanyaan.
"Enggak kak, lagian kan kita udah buat kesepakatan." Jawabku seraya tersenyum kearah kakakku yang satu ini.
"Lala yakin? Naik motor itu panas sayang, terus banyak polusi, ntar kalo kamu sakit gimana sayang?" kini giliran sifat overprotective nya kak Tata yang keluar.
Sambil tersenyum ku arahkan pandanganku ke Kak Tata, "Kak, keputusan aku sudah bulat, pertengahan semester genap deh Lala berangkat bareng kalian."
"Janji?" Tanya kakakku bersamaan.
"Janji !" Jawabku mantab.
Papa memandang kami secara bergantian lalu tersenyum. Kamipun lantas berpamitan untuk pergi kesekolah.
Selebihnya, ku serahkan semua pada waktu. Semoga ia masih berpihak kepadaku.


Mengenai Pengarang


EmoticonEmoticon