Sabtu, 25 November 2017

Part 4. Simpan Sendiri - Keyara (Fiksi Remaja)


***

Author POV

Keyla mengambil hp dengan logo apel digigit miliknya untuk menghubungi Radit.

Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya​ mulai terdengar suara dari seberang.

"Ya halo assalamualaikum La, ada apa telepon om?"

"Waalaikumsalam om, sebelumnya aku ganggu om gak? Om lagi sibuk ya?"

"Enggak, kamu gak ganggu om, om lagi gak sibuk kok, jadi ada apa La?"

"Gini om, kan sekarang lagi marak tuh pencurian, aku punya ide nih gimana kalau diparkiran kita kasih cctv? Ya bukannya meragukan keamanan disekolah sih .. Tapi apa salahnya sedia payung sebelum hujan?"

"Ide kamu bagus juga La, om denger banyak juga siswa yang melapor kehilangan helm tapi gak bisa diproses karena gak ada barang buktinya."

"Nah maka dari itu om, pasang aja cctv diparkiran, tapi jangan sampai ada siswa yang tau."

"Iya, nanti biar om hubungi pihak sarpras, biar mereka besok bisa langsung pasang cctv nya."

"Eh jangan besok om, nanti malam aja langsung."

"Loh kenapa harus nanti malem Key? Kan besok bisa?"

Duh gimana nyari alesannya yaa? Ayo mikir dong Key !

"Em itu om anu, kalau besok sama aja boong om, kan kalau pasangnya siang murid - murid bisa tau kalau kita pasang cctv diparkiran."

"Kamu bener juga La, tapi sarpras nya lagi ada urusan diluar kota mungkin besok baru bisa beli terus mungkin besok malam baru bisa dipasang."

"Oh gitu, yaudah deh gak papa, tapi makasih ya om ganteng, oh iya Lala minta akses buat liat cctv nya juga ya om."

"Iya sama - sama Lala cantik, besok om koneksiin langsung deh kelaptop kamu, udah dulu ya, ntar pulsa om abis lagi, takut gak bisa hubungi doi."

"Om Radit, please deh, ini yang telepon dari tadi itu aku ! Yakali pulsa om yang habis, lagian om mana punya doi, orang jones gitu juga."

"Ah si Lala kalau ngomong suka bener deh, awas aja ya aku ini om kamu lho ya, kualat ntar kamu."

"Haha damai om, yaudah aku tutup ya om, assalamualaikum."

"Iya waalaikumsalam."

Huh ! Urusan Om Radit done ! Kita lihat siapa yang berani main - main dengan Keyla.

Usai memutuskan panggilan dengan Radit, Keyla melihat layar hp nya yang mulai menampilkan wallpaper foto seorang laki - laki yang membawa bola voli dan merangkul mesra bahu gadis cantik disampingnya, gadis itu adalah Keyla.

Dia menghembuskan napas kasar, "Gak kerasa ya kak, udah 8 bulan berlalu, tapi rasa ini tetep gak berkurang sedikitpun."

Keyla mengambil napas dalam-dalam, "Kak Iyan Ara kangen." lirihnya.

Keyla mulai menangis lagi, ia tak dapat membendung lagi air matanya mana kala mengingat sosok Iyan.

"Kak Iyan, Ara kena bully dan gak ada satu orangpun yang bisa Ara mintain tolong, dulu ada Kak Iyan yang selalu pasang badan buat lindungin Ara, dulu Kak Iyan yang selalu semangatin Ara, dulu —"

Perkataan Keyla terhenti ketika mendapati pintu kamarnya dibuka dan memperlihatan dua laki - laki kembar tak identik yang langsung kaget melihat Keyla menangis.

"Astagfirullah La, kamu kenapa nangis kayak gini?" tanya Atva yang panik saat melihat adiknya menangis.

Keyla masih saja diam.

"Ngomong La, jangan buat kami panik !" seru Atta

"Aku kangen dia kak."

"Dia siapa, ngomong sama kakak." Desak Atva.

"Kak Iyan."

"Kak Iyan siapa La? Jangan kayak gini ke kakak please."

Keyla hanya mampu menggeleng, "Kak, aku boleh tidur dipelukan kalian? Aku capeeek banget."

Akhirnya Atta dan Atva memeluk erat adik tercintanya itu, dibiarkannya Keyla tertidur dipelukan mereka tanpa peduli bajunya yang sudah basah oleh air mata Keyla.

Lo kenapa La? Gue bahkan gak pernah liat lo nangis sampai kayak gini sebelumnya, seberat apa beban yang lo tanggung, jangan buat gue ngerasa gagal jadi kakak lo selama ini, batin Atta.

***

Atta POV

Tadi gue sama Atva punya niatan buat berantakin kamar Lala, maka dari itu gue sama Atva langsung aja masuk tanpa ketok pintu, gue gak takut kalau adek gue sedang ganti baju, soalnya kalau Lala ganti baju, biasanya dia kunci dulu tuh kamar.

Dan gue begitu terkejut pas lihat kondisi Lala udah kacau kayak gitu, pupus sudah niatan gue sama Atva buat berantakin kamarnya.

Gue sama kembaran gue langsung lari kearah Lala yang udah duduk disofa kamarnya dengan posisi tangan yang nutupin seluruh mukanya.

Gue sama Atva udah coba buat nanya kenapa dia bisa nangis kayak gitu, tapi dia tetep gak mau ngomong dan masih nangis.

Akhirnya gue sama Atva langsung peluk dia, perlahan isakan dia mulai mereda dan berganti dengan dengkuran pelan khas orang tidur, akhirnya gue angkat tubuh mungilnya kekasur dan gue pasang selimut buat dia.

Seberat apa sih masalah yang sedang lo hadapi La? Kenapa gue ngerasa gagal jadi kakak buat lo?

Gue pun beranjak dari kasur Lala dan langsung duduk disamping Atva yang lagi serius mandangin Lala.

"Va, kali ini gue mau kita damai dulu, semenjak Lala pulang, kita tuh emang mulai banyak ngomong, tapi kita lebih sering debat dari pada ngobrol." ujar gue memulai pembicaraan.

"Iya sih Ta gue mikirnya juga gitu, abisnya lo suka mancing gue sih."

"Jangan mulai deh Va, gue serius ini." jawab gue mencoba gak terpancing omongan Atva.

"Iya iya, jadi lo mau ngomong apa?"

"Lo pernah denger gak kata - kata bijak yang bilang kalo orang yang kelihatannya paling ceria itu sebenernya adalah orang paling butuh dihibur?" tanya gue.

Atva cuma ngangguk.

"Jadi gue punya ide buat bikin Lala ceria tanpa harus nangis kayak gini lagi, jadi kita jangan biarin dia sendirian, pokoknya kalo malam gini kita recokin dia atau ajak dia jalan atau main bareng."

Atva nangguk lagi.

"Lo bisa ngomong gak sih Va? Dari tadi gue ngomong panjang lebar lo nya cuma ngangguk doang kayak pajangan mobil !" gue mulai geram sama adek gue yang cuma selisih 5 menit sama gue itu.

"Ck, lo tuh ya bilangnya mau ngobrol tapi ujung - ujungnya cuma mau ngajak ribut doang !"

"Terserah lo dah !" kata gue final.

***

Author POV

Sehari setelah kejadian dimana Keyla meminta Radit untuk memasang CCTV diparkiran, Keyla tak terlihat lagi mengendarai motor kesekolah.

Hal ini membuat Radit menjadi curiga, walaupun dia sudah mendengar alasan Keyla enggan berangkat menggunakan motor lagi, namun Radit tetap merasa janggal dengan alasan keponakan tersayangnya itu.

Radit memang selalu mengawasi ketiga keponakannya itu secara diam - diam. Dia sudah menganggap bahwa Atta, Atva dan Keyla sebagai anak dia sendiri.

Merasa cemas dengan keselamatan ponakannya, akhirnya dia menyalakan laptop dan membuka rekaman cctv parkiran. Apalagi si kembar selama ini selalu bilang kalau Keyla tidak mempunyai teman satu orangpun disini.

"Gue yakin ada yang gak beres disini." gumam Radit.

Dia memperhatian secara saksama rekaman tersebut. Hingga matanya menangkap sebuah pergerakan yang membuat dia membulatkan matanya.

"Jadi ini yang buat Lala nyuruh gue buat pasang cctv diparkiran? Gue harus langsung konfirmasi ke Lala."

Dikirimnya sms ke keponakannya itu.

Hari ini kayaknya gue harus disekolah sampe sore lagi.

***

Bel pulang sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, kelas 10 IPA 1 juga sudah kosong menyisakan satu orang siswa dengan rambut panjang yang selalu dikepang dua, Keyla.

Dia melihat notifikasi di hp nokia jadulnya. Ada 11 pesan dengan rincian 10 pesan berasal dari Darrell dan 1 pesan dari Radit. Dibacanya pesan dari Darrell tanpa berniat membalasnya. Lalu dia beralih kepesan paling atas milik Radit.

Alis Keyla bertaut, "Hah, Om Radit ngapain nyuruh gue keruangannya? Kok perasaan gue gak enak ya?"

Keyla bergegas menuju ruang kepsek, ia mengetuk pintu begitu sampai didepan ruangan.

"Masuk !" titah suara dari dalam.

Keyla lantas membuka pintu bercat putih itu lalu masuk keruangan milik Radit.

Begitu masuk ruangan, Keyla sudah mendapati Radit yang tengah menatapnya intens.

Keyla berusaha mengarahkan pandangannya kelain arah, namun gagal.

Duh kenapa Om Radit bisa tau sih, batinnya.

"Jadi, bisa jelasin ke om sekarang juga La?" tanya Radit dengan nada dingin.

"Anu om, itu .. Aduh gimana ya ngomongnya?" Keyla tergagap.

"Tinggal ngomong aja susah, bisa ngomong kan?"

"Eh itu anu om, aku gak disuruh duduk dulu nih?" tanya Keyla berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Kamu ini ya ! Yaudah buruan duduk !" suruh Radit.

Keyla lantas duduk didepan Radit.

"Jadi itu alasan kamu gak berangkat sekolah naik motor lagi La?" tanya Radit.

Keyla yang duduk sambil memandangi sepatunya hanya mampu mengangguk.

"Jadi omongan kamu yang bilang kekakak - kakak kamu kalau kamu takut motor kamu rusak lagi itu cuma bohong bekala La?" Ya waktu itu keluarga Gibson dikagetkan dengan berita motor Keyla yang tiba-tiba mengalami rem blong yang membuat seluruh anggota keluarga mendatangi kediaman Kelvin untuk melihat kondisi Keyla, padahal dia baik-baik saja, lecet pun tidak.

Keyla mengangguk lagi.

"Jadi selama ini kamu bohongi papa, kakak dan om kamu sendiri La?"

Keyla mengangguk, matanya mulai berair.

"Om gak bisa biarin ini terjadi, pokoknya om bakalan tuntut orang itu, psikopat macam dia gak pantes jadi murid disekolah ini." Tegas Radit.

"Jangan om, kasihan dia." Pinta Keyla.

"Kamu itu terlalu baik La, harusnya kamu pilih-pilih mana yang emang pantes dibaikin mana yang enggak."

Siapa sangka, Keyla malah menangis dihadapan Radit.

Radit yang panik lantas berdiri dan merengkuh Keyla kedalam pelukannya. Ia tau kalau ponakannya ini tidak bisa dipaksa, ia juga sadar bahwa Keyla pasti mempunyai alasan kuat dibalik semua ini. Dia tau betul bahwa ponakan kesayangannya itu tidak akan pernah mengecewakannya.

Setelah Keyla sudah nampak tenang, Radit kembali berujar, "Jadi, bisa jelasin ke om semuanya?"

Keyla menangguk dan mulai menceritakan kisah pilu yang dialaminya selama disekolah itu.

Radit tak pernah menyangka bahwa keponakannya yang tak lain dan tak bukan adalah calon tunggal pewaris yayasan yang dia pegang sekarang mendapatkan perlakuan tak berperi kemanusiaan seperi ini.

"Om janji ya gak akan bilang sama ke Kak Tata sama Kak Vava." pinta Keyla.

"Iya kalau itu mau kamu, om turuti La, tapi kamu juga harus janji sama om kalau kamu bisa jaga diri kamu sendiri." ujar Radit.

"Siap om, om gak lupa kan kalau aku udah punya sabuk hitam?" jawab Keyla sombong.

"Haha iya iya, yaudah pulang sana udah sore, nanti kakak kamu nyariin lagi, atau mau pulang bareng om?" tawar Radit.

"Aku pulang sendiri aja om, ntar yang ada kalau aku pulang bareng om, satu sekolahan tambah gempar lagi, yaudah aku pamit ya om, assalamualaikum." pamit Keyla.

"Iya hati - hati dijalan, waalaikumsalam."

***

Sebulan sudah pasca kejadian Darrell mengungkapkan perasaannya kepada Keyla. Dan sebulan sudah Keyla menjauh dari Darrell.

Dia tak lagi melihat Keyla disekolah, Keyla bak hilang ditelan bumi.

Jika biasanya dia melihat Keyla diparkiran, maka kini jangankan orangnya, motornya saja sudah tak lagi kelihatan.

Saat jam istirahat pun, dia tak menemukan keberadaan Keyla, saat dia mencoba bertanya kepada salah satu teman sekelas Keyla, orang itu menjawab tidak tau.

Bahkan pesan yang ia kirim tak pernah mendapat balasan dari Keyla.

Hal itu membuat Darrell jadi uring - uringan. Dan kalau sudah begini, teman - temannya lah yang menjadi pelampiasan amarah Darrell.

Seperti saat ini, saat geng d'jabrix sedang berkumpul dilapangan basket. Mereka memang menjadi anggota inti di tim basket sekolahnya.

"Lo kenapa sih Rel? Dari tadi main lo kacau ! Lo sama sekali gak fokus ! Apa perlu gue beliin aqua?" tanya Jack.

Yang ditanya cuma diam.

"Lo pasti kepikiran sama Keyla ya? Jangan - jangan lo udah —"

Omongan Alex dipotong oleh Darrell, "Lo jangan ngaco deh Lex !"

"Ya habisnya sejak lo nembak dia dan dia hindarin lo, lo jadi uringan - uringan mulu, jadi ya kita simpulin kalo lo beneran —"

Omongan Alex dipotong Darrell lagi, "Gak ! Lo singkirin semua pikiran tolol lo itu ! Kalo gak gara - gara lo, gue juga gak bakalan kayak gini !"

Keynan menoleh kearah sahabat - sahabatnya, "Jadi kalian semua ribut gara - gara itu? Inget dan catet ya dari awal gue gak pernah setuju sama ide tolol kalian itu, gue gak mau ikut tanggung jawab kalau suatu saat semuanya terbongkar, gue pulang !"

Keynan menganggil tasnya yang tergeletak dipinggir lapangan dan pergi menuju parkiran.

"Aaarrrggghh .. Gue juga cabut !" putus Darrell lalu pergi meninggalkan Jack dan Alex.

"Eh .. Terus latihannya gimana?" teriak Jack kepada Darrell yang mulai menjauh.

"Bubar !" seru Darrell.

Alex dan Jack mendesah kecewa.

"Pulang kuy !" ujar Jack pada Alex.

Dan terkadang cinta itu datang dengan cara yang tak terduga.

Mengenai Pengarang


EmoticonEmoticon