Selasa, 21 November 2017

Part 1. Sekolah Baru - Keyara (Fiksi Remaja)

And now I will start living today, today, today
I close the door
I got this new beginning and I will fly
I'll fly like a cannonball
— Lea Michele, Cannonball.

***

Author POV

Keyla melajukan sepeda motor pitungnya dengan kecepatan sedang. Sebenarnya dia ingin melajukan motornya dengan kecepatan lebih lagi, namun apa daya, dia menyadari bahwa motor antiknya itu pasti tidak akan bisa diajak kompromi.

Sesekali dia meliuk - liuk kekanan dan kekiri untuk mencari celah yang bisa ia lewati untuk segera sampai kesekolah.

Pukul 6.45 Keyla telah sampai diparkiran motor sekolah barunya. Suasana parkiran motor memang cukup lengang dikarenakan murid lain lebih senang mengendarai mobil dari pada motor, tak sedikit pula yang memilih untuk menggunakan angkutan umum.

Dia bergegas melangkahkan kaki menuju lapangan untuk mengikuti upacara bendera hari Senin sekaligus pembukaan acara MOS yang akan dipimpin langsung oleh kepala sekolah.

Sepuluh menit sebelum bel berbunyi, para anggota OSIS lengkap dengan jas almamater berwarna biru dongker dengan logo sekolah dibagian kiri atas dan nametag dibagian kanan atas mulai berteriak mengatur barisan peserta MOS. Dan tepat setelah barisan sudah tertata, bel masuk berbunyi.

Upacara yang berlangsung selama 45 menit itu berjalan dengan khidmat. Upacara usai dan siswa kelas 11 dan 12 mulai meninggalkan lapangan upacara.

Dan disinilah para peserta MOS berada, dilapangan upacara dengan sinar matahari yang cukup terik.

Mereka berbaris sesuai dengan kelas masing - masing, dimana pembagian kelas memang telah diumumkan sejak hari Sabtu kemarin, ajaibnya walau pengumuman pembagian kelas sudah ditempel dipapan pengumuman, masih saja ada satu dua murid yang salah masuk kelas.

***

Keyla POV

Hari ini hari pertamaku menjalani MOS. Dan disinilah aku, terdampar diantara ratusan siswa baru disekolahku, ditemani dengan cahaya matahari yang cukup terik.

Pembagian kelas memang sudah dilakukan kemarin Sabtu, dan aku masuk dikelas 10 IPA 1, kelas dengan jumlah siswa paling sedikit diantara yang lain. Bagaimana tidak? Jika dikelas lain jumlah siswanya mencapai 34, maka dikelasku hanya diisi 20 siswa.

"Halo adek - adek, ini kelas 10 IPA 1 kan ya?" Tanya seorang anggota OSIS yang sudah berdiri didepan barisan kelasku.

"Iyaaa .." Jawab kami serentak.

"Oke, adik-adik kenalin nama gue Liana, kalian bisa panggil gue Kak Lia dan disamping gue ada si Jack, kalian bisa panggil dia Kak Jack, kami yang akan menjadi penekel kalian selama MOS, ada yang mau ditanyakan?" jelas OSIS yang bernama Lia tadi.

"Tidaak .." jawab anak - anak kelasku.

"Oke, kalo tidak ada yang ditanyakan, kalian pastinya udah bawa kan peralatan yang kita suruh bawa kemarin Sabtu?" Kini giliran Kak Jack yang berbicara.

Sontak semua murid mengangguk sebagai jawaban.

"Kalau gitu kalian boleh duduk, ntar nama yang gue panggil langsung maju bawa peralatan yang bakal dikumpulin ya." titah Kak Lia.

Aku hanya fokus pada perintah OSIS dan tidak mempedulikan cewek - cewek kelasku yang mulai sibuk mengagumi ketampanan Kak Jack. Dasar perempuan !

Setelah menunggu 10 menit, akhirnya namaku dipanggil, aku maju dan mengumpulkan peralatan yang diminta.

"Teletubbies cari keringat nya mana?" tanya Kak Lia.

"Ini kak." jawabku seraya menyerahkan sebotol minuman ion milik salah satu brand terkenal di Indonesia.

"Bagus, raja buahnya?" kini giliran Kak Jack yang bertanya.

"Ini kak." ku serahkan buah nanas kepada Kak Jack.

"Lo tau kesalahan lo apa?" tanya Kak Jack dan aku hanya menggeleng.

"Ck, raja buah itu manggis, bukan nanas, sekarang lo lari cari Kak Alex buat minta hukuman, paham?"

"Iya, paham kak." jawabku seraya bergegas mencari Kak Alex. Sebenarnya aku pengen kabur, yakali cari orang buat minta hukuman. Emang dasar.

Tiga menit berlalu aku mulai menemukan Kak Alex, ternyata banyak juga yang kena hukuman.

Setelah menghadap Kak Alex dan menjelaskan kesalahanku, Kak Alex memberiku dua pilihan, mencuci kamar mandi siswa atau mencari tanda tangan kepala sekolah. Tanpa pikir panjang, aku langsung memilih opsi yang kedua. Yakali bersihin toilet yang jumlahnya nggak karuan. Ya walaupun jumlah siswa yang dihukum cukup banyak, tetap saja aku nggak mau.

"Oh berani juga lo, dari 50 siswa yang gue suruh milih hukuman, gak ada satupun diantara mereka yang milih opsi kedua." Senyum miring mulai tercetak diwajah Kak Alex. Aku pun hanya diam, tak mau menanggapinya.

"Oke, catet nama lo disini dan hukuman yang lo pilih." Dia memberiku secarik kertas yang sudah terdapat beberapa nama yang tidak aku kenal.

"Ini Kak." ku kembalikan kertas tersebut.

"Keyla Agatha G." keningnya berkerut dan hanya ku jawab dengan anggukan.

"G disini singkatan dari apa?" tanyanya lagi.

"Ada, Rahasia."

"Ck, okelah, kumpulin hukuman lo ntar sore pas udah pulang ke gue, gue ada diruang OSIS, dan jangan sekali - kali lo kabur dari hukuman ini, ato lo akan tanggung akibatnya, mengerti?"

Aku mengangguk "Mengerti kak"

"Kalo gitu lo kembali ke kelas lo karena acara lain udah nunggu lo." titah Kak Alex.

"Baik kak"

Aku mulai beranjak dari tempat Kak Alex menuju barisan kelasku, namun sebelum aku sampai dibarisan, ku keluarkan hp nokia jadul milikku dan mulai mengetikkan pesan untuk seseorang. Dan .. Sent .. Selesai.

***

Tepat pukul 2 siang acara MOS dihari pertama selesai. Seluruh peserta MOS diperbolehkan pulang, kecuali mereka yang memiliki kewajiban untuk menjalankan hukuman. Seperti aku ini salah satunya, sial memang !

Segera ku langkahkan kakiku menuju ruang kepala sekolah. Jangan tanyakan apa aku tau letak ruangannya atau tidak, karena aku sudah hafal betul setiap inchi dari sekolah ini.

Setibanya didepan pintu, aku sengaja tak langsung mengetuk pintu karena aku mendengar dengan jelas perdebatan orang - orang didalam ruangan ini. Bukan maksud untuk menguping, tapi ya salah sendiri suaranya kedengaran sampai diluar.

"Memangnya kenapa Alex? Salah kalau jam segini saya masih berada disekolah?" Alex? Kayak kenal.

"Ya tidak Pak, hanya saja —" omongan Kak Alex terhenti ketika aku mulai mengetuk pintu.

"Masuk !" ku dengar suara mempersilahkan aku masuk, dan aku hafal sekali suara ini, suara bapak kepala sekolah sekaligus om ku, Om Radit.

Aku segera membuka pintu dan masuk keruangan Om Radit, pemandangan pertama yang ku lihat adalah Kak Alex bersama Kak Jack yang cengo melihat kedatanganku.

Om Radit memulai aktingnya saat aku sudah mengedipkan sebelah mataku kearahnya, "Kamu siapa? Ada perlu apa kamu datang keruangan saya?"

Akting yang bagus om, batinku.

"Begini pak, saya siswa baru yang mendapat hukuman dari kakak OSIS yang kebetulan sekarang sedang berada didepan bapak itu untuk meminta tanda tangan bapak. Sebab kalau saya tidak mendapatkan tanda tangan bapak, saya akan dapat hukuman lagi." jelasku setenang mungkin, padahal hatiku sudah mati - matian menahan tawaku agar tidak pecah didepan Kak Alex dan Kak Jack.

"Oh, jadi maksud kalian kesini itu untuk mengusir saya agar siswa baru ini tidak bisa mendapatkan tanda tangan saya lalu kalian akan menghukumnya lagi?" kini pandangan Om Radit mengarah kepada kedua OSIS jahara itu. Rasain ! Siapa suruh macam - macam dengan Keyla !

Siapa sangka, kedua curut didepanku ini hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Ah, kasihan.

"Saya rasa kalian sudah tidak ada kepentingan lagi diruangan saya, silahkan pergi dari sini, dan kamu —" kini pandangan Om Radit mengarah kepadaku.

"Keyla Pak."

"Oh iya Keyla, silahkan duduk disini." perintah Om Radit seraya menunjuk kursi kosong disebelahnya.

"Baik Pak." jawabku lalu menuju kursi yang dimaksud.

Kak Alex dan Kak Jack bangkit dari duduknya, "Kalau begitu saya dan Jack pamit dulu Pak."

"Silahkan."

Selepas kepergian dua curut kurang ajar itu, aku dan Om Radit saling pandang dan detik berikutnya kami berdua tertawa lepas.

"Ih akting om bagus banget tau, cocok deh jadi pemain film." candaku.

"Kamu ini La ada - ada aja, nanti kalau om jadi pemain film, siapa yang jadi kepala sekolah disini? Nanti populasi guru ganteng disekolah ini berkurang dong? Om gak mau ya siswi - siswi om jadi gak semangat belajar gara - gara ditinggal sama om."

Ya inilah Om Radit, diusianya yang masih 26 tahun, beliau sudah menjadi kepala sekolah, selain itu dia juga memiliki usaha dibidang desain grafis, bodynya yang cool abis bikin cewek - cewek meleleh, dan statusnya yang masih lajang membuat beliau menjadi idola kebanyakan siswi disekolah ini.

"Tuhkan, gak ada angin gak ada ujan tiba - tiba keluar narsisnya." jawabku seraya memutar bola mata jengah.

Om Radit memberiku secarik kertas, "Haha, yaudah ini tanda tangan om, udah om siapin dari tadi kamu SMS, berasa artis dimintain tanda tangan mulu."

"Om, please deh, tadi om sediri yang bilang kalo om nggak mau jadi artis." ujarku sambil mengambil secarik kertas itu, namun sebelum kertas itu berada ditanganku, Om Radit kembali menariknya.

Om Radit mulai menampakkan senyum setannya, "Eits, ini gak gratis, ada syaratnya."

"Ih om sama yang lain kebiasaan deh, yaudah nih." jawabku seraya mencium kedua pipinya.

Dikeluargaku memang akulah satu - satunya perempuan, karena mama dulu anak tunggal dan papa yang memiliki dua adik kandung yang kebetulan juga laki - laki semua, Om Radit dan Om Satria yang masih berusia 20 tahun dan sekarang sedang berada di Jerman untuk mengejar gelar dokter nya, jadi om - om dan kakak - kakakku selalu bersifat manja padaku, padahal seharusnya akulah yang manja kemereka, lah ini malah kebalikannya.

"Yaudah nih tanda tangannya, besok jangan sampai salah bawa alat MOS lagi, kalau perlu tanya sama Atta atau Atva biar mereka yang siapin alat MOS nya."

"Siap kapten !" jawabku seraya memberi hormat ke Om Radit.

"Udah buruan kumpulin terus langsung pulang dan jangan mampir - mampir, ntar keburu ashar."

"Ih kayaknya om udah pantes deh punya anak, nih buktinya udah cocok banget kalo disuruh nasehatin anak orang." candaku.

Om Radit hanya terkekeh, "Kamu ini Key, boro - boro anak, pacar aja gak ada."

"Lah malah curhat ke Key, makannya cari, jangan pacaran sama laptop terus." ejekku.

"Kamu ya, kurang ajar sama om."

Aku mulai menjauh karena jika sudah begini keselamatan pipiku akan terancam. Om ku yang satu ini emang suka banget nyubit - nyubit pipiku.

Aku lari sambil cekikikan keluar ruangan Om Radit sembari mengucapkan maaf berkali - kali hingga rasanya perut ini bakalan kram karena kebanyakan ketawa.

Langkahku terhenti di depan ruang OSIS.

"Mau ngapain?" tanya perempuan yang aku yakini adalah anggota OSIS.

"Em, anu kak, itu .. Mau nemuin Kak Alex, ada?" tanyaku gugup.

"Ada perlu apa sama Alex?" interogasinya.

"Mau nyerahin hukuman tadi pagi kak."

"Oh, tunggu disini bentar." jawabnya seraya kembali masuk keruangan OSIS.

Selang beberapa menit munculah Kak Alex dari ruang OSIS.

"Ada apa?" tanya Alex to the point, aku tau dia pasti kesal karena niat jahatnya ketahuan olehku.

"Ini kak tanda tangannya, maaf dan terimakasih kak." Aku memberikan secarik kertas yang sudah dibubuhi tanda tangan Om Radit.

Kak Alex sempat terkejut mendengar kata-kata​ku, memangnya ada yang salah?

"Hallo Kak Alex, ini kertasnya jadi diambil tidak?" Tanyaku dengan nada yang lebih keras lagi, beruntung dia mendengarnya.

"Oh oke, sini." titahnya seraya mengambil secarik kertas itu, "kalau gitu lo boleh pulang." lanjutnya.

"Kalau gitu saya permisi pulang dulu Kak, Assalamualaikum." Aku tersenyum singkat.

Kak Alex terpaku, jangan bilang dia mengagumi senyumanku.

Karena tak kunjung mendapat balasan darinya akhirnya aku memutuskan untuk pulang, samar-samar aku mendengar dia bersua, "Waalaikumsalam Keyla, hati - hati dijalan, asli, lo bikin penasaran."

Ah dasar playboy.

Mengenai Pengarang


EmoticonEmoticon